<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rdf:RDF xmlns:rdf="http://www.w3.org/1999/02/22-rdf-syntax-ns#" xmlns:default="http://purl.org/rss/1.0/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:admin="http://webns.net/mvcb/" xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/" xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"><default:channel xmlns="http://purl.org/rss/1.0/" xmlns:rdf="http://www.w3.org/1999/02/22-rdf-syntax-ns#" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:admin="http://webns.net/mvcb/" xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/" rdf:about="http://jerink.blog.co.uk/"><title>kepastian dan keadilan hukum</title><link>http://jerink.blog.co.uk/</link><description></description><dc:language xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/">en-EU</dc:language><admin:generatorAgent xmlns:admin="http://webns.net/mvcb/" xmlns:rdf="http://www.w3.org/1999/02/22-rdf-syntax-ns#" rdf:resource="http://www.blog.co.uk"/><sy:updatePeriod xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/">hourly</sy:updatePeriod><sy:updateFrequency xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/">8</sy:updateFrequency><sy:updateBase xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/">2000-01-01T12:00+00:00</sy:updateBase><image><title>kepastian dan keadilan hukum</title><link>http://jerink.blog.co.uk/</link><url>http://data5.blog.de/design/preview/18/1933c67801016c911b59a9dc458005_160x200.jpg</url></image><items><rdf:Seq><rdf:li rdf:resource="http://jerink.blog.co.uk/2007/07/07/perempuan_ironi_sebuah_peradaban~2592816/"/></rdf:Seq></items></default:channel><default:item xmlns:default="http://purl.org/rss/1.0/" xmlns:rdf="http://www.w3.org/1999/02/22-rdf-syntax-ns#" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" rdf:about="http://jerink.blog.co.uk/2007/07/07/perempuan_ironi_sebuah_peradaban~2592816/"><default:title>Perempuan - Ironi sebuah peradaban</default:title><default:link>http://jerink.blog.co.uk/2007/07/07/perempuan_ironi_sebuah_peradaban~2592816/</default:link><dc:date xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/">2007-07-07T22:13:51+02:00</dc:date><default:description>	&lt;p&gt;
Perempuan Bali itu, Luh,Perempuan yang tidak biasa mengeluarkan keluhan. Mereka lebih memilih berpeluh. Hanya dengan cara itu mereka sadar dan tahu bahwa mereka masih hidup, dan harus tetap hidup. Keringat mereka adalah api. Dari keringat itulah asap dapur bisa tetap terjaga. Mereka tidak hanya menyusui anak yang lahir dari tubuh mereka. Mereka pun menyusui laki-laki. Menyusui hidup itu sendiri.”&lt;/p&gt;
	&lt;p&gt;Kalimat diatas bukanlah pelecehan terhadap kaum perempuan, tapi secuil kutipan yang saya ambil dari novel “Tarian Bumi”, novel yang sangat saya kagumi karya Oka Rusmini. Sebuah novel eksotis khas etnik Bali yang penuh dengan suasana dan atmosfer “pemberontakan”, sekaligus situasi ambivalen kaum perempuan dalam menghadapi realitas sosialnya. Tata sosial yang hierarkis lewat pembagian kasta, patriarkhal di mana kaum laki-laki lebih banyak mendapatkan previlese social, merupakan problem-problem fundamental yang dihadapi kaum perempuan di Bali, jika hendak menemukan hubungan yang relatif lebih equal dan lebih emansipatoris.&lt;/p&gt;
	&lt;p&gt;Dari jaman dahulu sampai sekarang memang nggak habis-habisnya kita temui ketimpangan-ketimpangan dan diskriminasi yang dialami oleh kaum perempuan, kebanyakan masyarakat memandang perempuan tidak lebih “tinggi” dari kaum laki-laki, bahkan sejarah tak sedikit yang mencatat, kaum perempuan hanya sebagai bahan perdagangan. Timur memandangnya sebagai komoditi untuk diperjual belikan, sementara Barat tidak mengakui feminitasnya. Apalagi sekarang, jaman industri modern membuat perempuan banyak yang harus beradaptasi dengan lingkungan fisik (pekerjaan) yang sama dengan laki-laki, sehingga harus mengorbankan feminitas dan peran kodratinya dalam kecantikan, keibuan, serta cara berpikirnya. Ini memang potret dari masyarakat matrelialistik dan nggak beradab. Memaksa perempuan melakukan pekerjaan laki-laki, merupakan agresi yang tidak adil terhadap feminitas yang diberikan perempuan secara kodrati dan esensial bagi kehidupan. &lt;/p&gt;
	&lt;p&gt;Meskipun secara anatomi dan biologis ada perbedaan antara laki-laki dan perempuan, tetapi apakah diskriminasi dapat dibenarkan, apapun itu bentuknya ?. Toh kenyataannya perempuan hidup, makan, berpikir, belajar, dan memahami, bahkan mati sama seperti laki-laki. Ketika suatu saat terbersit pertanyaan dalam pikiran kita, mengapa harus ada perempuan dan laki-laki di dalam dunia ini ?, bukan perempuan, atau laki-laki saja, mengapa harus ada keduanya ? Maka harus ada kepastian kodrati bagi eksistensi antara laki-laki dan perempuan, lebih dari sekedar laki-laki dan perempuan itu sendiri. Ini dapat dibuktikan melalui penciptaan keduanya.&lt;/p&gt;
	&lt;p&gt;Berbicara tentang penciptaan adalah suatu yang sulit ( nggak jelas mana yang lebih dulu ada, telor apa ayam, mungkin telor soalnya kalo di warung kita pasti bilang mau beli telor ayam, bukan ayam telor, ya …nggak) &lt;/p&gt;
	&lt;p&gt;Tetapi berbicara tentang penciptaan manusia, maka dari fungsi biologis perempuanlah semuanya berawal. Dari hamil, melahirkan, menyusui, dan mengasuh anak-anak dengan segala akibatnya adalah peran yang harus dijalani perempuan secara kodrati. Ia menjadi penanggung jawab langsung atas orang lain. Ia memiliki peran yang sangat penting dalam keluarga, dalam sebuah generasi. Laki-laki tidak dapat melakukannya, laki-laki tidak dapat melaksanakan fungsi-fungsi tersebut.&lt;/p&gt;
	&lt;p&gt;Agama Hindu adalah agama yang sangat menghormati kaum perempuan, banyak cerita tentang kehebatan kaum perempuan dalam agama Hindu, dari Shinta yang jadi symbol kesetiaan, Kunti sang Ibu para Pandawa, Srikandi yang perkasa, Anjali dalam Kuch Kuch Hota Hai (termasuk nggak ya?), sampai India yang banyak Miss Universe-nya (India adalah salah satu negara yang termaju dalam pendidikan kaum perempuannya ) . Ada suatu keharusan bagi kita untuk menghormati setiap perempuan seperti kita menghormati ibu kita sendiri, begitu juga perkembangan agama Hindu tidak akan berarti apa-apa tanpa kaum perempuan. Seperti kita ketahui bahwa untuk menjalani kehidupan agama Hindu di Bali yang nggak pernah sepi dari upacara, setiap hari kita butuh bermacam banten ini - itu, banyak sekali. hingga tak ada hari tanpa banten (orang bilang di Bali nggak ada masalah, yang nggak bisa diselesaikan dengan banten), dan semuanya adalah tugas kaum perempuan untuk menyiapkannya. Jadi bisa dijamin, kalo nggak mungkin ada upacara bisa beres tanpa campur tangan kaum perempuan. &lt;/p&gt;
	&lt;p&gt;Sedemikian besarnya peran kaum perempuan, membuat perempuan bagaikan pengendali dalam suatu upacara, tapi sayangnya nggak banyak dari mereka yang memiliki pemahaman yang baik tentang agama. Kebanyakan perempuan di Bali pendidikannya pas-pasan dan tertekan secara patriarchal dari kaum laki-laki. Banyak yang mengatakan bahwa perempuan nggak perlu tahu masalah agama secara mendalam, cukup mengurus rumah tangga, masak, ngurus anak, dll, urusan agama biar jadi urusannya laki-laki, (kalo ketemu orang yang punya pendapat kayak gini, Wahai…perempuan kepalkan tanganmu dan lawan !!!). Sehingga kebanyakan kaum perempuan di Bali menjalankan agama hanya sekedar menjalankan tradisi dari pada menjalankan dengan memahami yang benar. &lt;/p&gt;
	&lt;p&gt;Pelaksanaan agama yang kurang seimbang, lebih cenderung ritual dengan banyaknya upacara dari pada filsafat atau etikanya, membuat peran kaum perempuan Hindu semakin besar di dalam spectrum pembangunan agama, sehingga sudah saatnya sekarang kita lebih memperhatikan pembangunan perempuan Hindu dalam pendidikan dan kepribadiannya, sehingga pemahaman agama yang baik dalam diri kaum perempuan, pasti akan tertular kepada anak-anaknya, keluarganya, dan masyarakat di lingkungannya. Pemahaman agama yang baik dan meningkatnya kehidupan beragama pada setiap orang akan menciptakan kerukunan antar sesama.&lt;/p&gt;
	&lt;p&gt;Tapi benarkah perempuan selalu tertindas??? Apa itu bukan merupakan secuil kasus yang digeneralisasikan??? Coba kita tengok disalahsatu desa di Karangasem (tanah kelahiran saya tercinta) Di sana dikenal dengan adanya hari “Nyepi Luh”, yang mana pada setiap hari itu tiba, setiap perempuan di desa tersebut total dibebastugaskan dari rutinitas keseharian mereka. Mulai dari memasak, mencuci, memberi makan ternak, sampai mengurus anak semuanya dilakukan oleh kaum lelaki di desa tersebut.&lt;/p&gt;
	&lt;p&gt;Benarkah semua ketertindasan terhadap perempuan selalu dilakukan oleh lelaki??? Tidakkah perempuan juga kompeten untuk melakukan penindasan terhadap kaumnya sendiri??? Bagaimana dengan “mami-mami” di lokalisasi prostitusi, nyata mereka adalah perempuan yang memperdagangkan sensualitas perempuan. Bagaimana dengan nyonya-nyonya majikan yang selalu memarahi dan berkata-kata kasar kepada pembantunya, apabila si pembantu melakukan kesalahan. Bagaimana dengan nyonya-nyonya yang mengejar karier sehingga tidak mau direpotkan oleh urusan untuk mengurusi rumah tangga dan mengurusi mertuanya yang sudah renta sehingga harus dikirim ke panti jompo, dan anak-anak mereka kekurangan kasih sayang. Sebab kasih sayang paling utama yang didambakan oleh seorang anak adalah kasih sayang seorang ibu.&lt;/p&gt;
	&lt;p&gt;Bahwa sudah saatnya sebuah gerakan penyadaran untuk memperjuangkan hak-hak mereka sebagai manusia yang terlahir merdeka. Gerakan ini bukan gerakan revolusioner seperti yang banyak berkembang saat ini. Yang memper-juangkan kesetaraan dan sebagainya, namun banyak didalam aksinya menyalahkan lelaki sebagai faktor utama penyebab utama kekerasan terhadap perempuan. Jadi jangan heran semakin keras anda menyalahkan dan penghinaan terhadap lelaki dalam perjuangan kesetaraan maka semakin keras pula bentuk perlawanan dengan pelecehan yang dilontarkan, seperti lagu Balade of Lupe. Sebab belum tentu semua lelaki melakukan penindasan dan pelecehan terhadap perempuan. Jadi kaum perempuan juga harus mengacuhkan/memperhatikan mereka. &lt;/p&gt;
	&lt;p&gt;Gerakan yang saya maksud adalah gerakan evolusioner “bawah tanah”. Unit terkecil dari sebuah negara adalah keluarga, jadi gerakan ini pertama kali harus diawali dari keluarga. Apalah artinya, jika kita sukses menanamkan semangat kesetaraan di masyarakat tapi di keluarga tidak, contoh seperti yang yang terjadi pada keluarga Mohandes Karamchand Gandhi.&lt;/p&gt;
	&lt;p&gt;Jadi kaum perempuan mulai mendidik anak-anak mereka dan menanamkan bahwa pelecehan dan segala bentuk penindasan baik terhadap perempuan maupun lelaki adalah sebuah bentuk kekerasan yang tidak beradab dan bertentangan dengan kodrat hakiki dari makhluk hidup (seperti nilai-nilai yang ditanamkan kepada saya sejak kecil oleh ibu saya). Selain itu kaum perempuan juga harus menanamkan nilai-nilai ajaran kebenaran yang terdapat dalam setiap agama.&lt;/p&gt;
	&lt;p&gt;Ini berarti kaum perempuan harus mulai menjaga wibawa dan sikap dalam berbuat maupun berkata-kata. Apa arti dari nilai-nilai yang kita tanamkan, jika kita sendiri dalam pergaulan bermasyarakat bersikap atau berkata-kata yang dianggap bertentangan dengan kaidah-kaidah yang berlaku di masyarakat. Pikirkan efek-efek negatif yang akan diterima oleh anak-anak kita.&lt;br&gt;
Prinsipnya adalah perjuangan pembelaan terhadap ketertindasan perempuan janganlah diharap serta-merta memperoleh hasil nyata sekarang, tapi kita nikmati hasilnya nanti.
&lt;/p&gt;
&lt;p&gt; &lt;small&gt; &lt;a href="http://jerink.blog.co.uk/2007/07/07/perempuan_ironi_sebuah_peradaban~2592816/#comments"&gt;Comments&lt;/a&gt; &lt;/small&gt; &lt;/p&gt;</default:description><content:encoded xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"><![CDATA[	<p>
Perempuan Bali itu, Luh,Perempuan yang tidak biasa mengeluarkan keluhan. Mereka lebih memilih berpeluh. Hanya dengan cara itu mereka sadar dan tahu bahwa mereka masih hidup, dan harus tetap hidup. Keringat mereka adalah api. Dari keringat itulah asap dapur bisa tetap terjaga. Mereka tidak hanya menyusui anak yang lahir dari tubuh mereka. Mereka pun menyusui laki-laki. Menyusui hidup itu sendiri.”</p>
	<p>Kalimat diatas bukanlah pelecehan terhadap kaum perempuan, tapi secuil kutipan yang saya ambil dari novel “Tarian Bumi”, novel yang sangat saya kagumi karya Oka Rusmini. Sebuah novel eksotis khas etnik Bali yang penuh dengan suasana dan atmosfer “pemberontakan”, sekaligus situasi ambivalen kaum perempuan dalam menghadapi realitas sosialnya. Tata sosial yang hierarkis lewat pembagian kasta, patriarkhal di mana kaum laki-laki lebih banyak mendapatkan previlese social, merupakan problem-problem fundamental yang dihadapi kaum perempuan di Bali, jika hendak menemukan hubungan yang relatif lebih equal dan lebih emansipatoris.</p>
	<p>Dari jaman dahulu sampai sekarang memang nggak habis-habisnya kita temui ketimpangan-ketimpangan dan diskriminasi yang dialami oleh kaum perempuan, kebanyakan masyarakat memandang perempuan tidak lebih “tinggi” dari kaum laki-laki, bahkan sejarah tak sedikit yang mencatat, kaum perempuan hanya sebagai bahan perdagangan. Timur memandangnya sebagai komoditi untuk diperjual belikan, sementara Barat tidak mengakui feminitasnya. Apalagi sekarang, jaman industri modern membuat perempuan banyak yang harus beradaptasi dengan lingkungan fisik (pekerjaan) yang sama dengan laki-laki, sehingga harus mengorbankan feminitas dan peran kodratinya dalam kecantikan, keibuan, serta cara berpikirnya. Ini memang potret dari masyarakat matrelialistik dan nggak beradab. Memaksa perempuan melakukan pekerjaan laki-laki, merupakan agresi yang tidak adil terhadap feminitas yang diberikan perempuan secara kodrati dan esensial bagi kehidupan. </p>
	<p>Meskipun secara anatomi dan biologis ada perbedaan antara laki-laki dan perempuan, tetapi apakah diskriminasi dapat dibenarkan, apapun itu bentuknya ?. Toh kenyataannya perempuan hidup, makan, berpikir, belajar, dan memahami, bahkan mati sama seperti laki-laki. Ketika suatu saat terbersit pertanyaan dalam pikiran kita, mengapa harus ada perempuan dan laki-laki di dalam dunia ini ?, bukan perempuan, atau laki-laki saja, mengapa harus ada keduanya ? Maka harus ada kepastian kodrati bagi eksistensi antara laki-laki dan perempuan, lebih dari sekedar laki-laki dan perempuan itu sendiri. Ini dapat dibuktikan melalui penciptaan keduanya.</p>
	<p>Berbicara tentang penciptaan adalah suatu yang sulit ( nggak jelas mana yang lebih dulu ada, telor apa ayam, mungkin telor soalnya kalo di warung kita pasti bilang mau beli telor ayam, bukan ayam telor, ya …nggak) </p>
	<p>Tetapi berbicara tentang penciptaan manusia, maka dari fungsi biologis perempuanlah semuanya berawal. Dari hamil, melahirkan, menyusui, dan mengasuh anak-anak dengan segala akibatnya adalah peran yang harus dijalani perempuan secara kodrati. Ia menjadi penanggung jawab langsung atas orang lain. Ia memiliki peran yang sangat penting dalam keluarga, dalam sebuah generasi. Laki-laki tidak dapat melakukannya, laki-laki tidak dapat melaksanakan fungsi-fungsi tersebut.</p>
	<p>Agama Hindu adalah agama yang sangat menghormati kaum perempuan, banyak cerita tentang kehebatan kaum perempuan dalam agama Hindu, dari Shinta yang jadi symbol kesetiaan, Kunti sang Ibu para Pandawa, Srikandi yang perkasa, Anjali dalam Kuch Kuch Hota Hai (termasuk nggak ya?), sampai India yang banyak Miss Universe-nya (India adalah salah satu negara yang termaju dalam pendidikan kaum perempuannya ) . Ada suatu keharusan bagi kita untuk menghormati setiap perempuan seperti kita menghormati ibu kita sendiri, begitu juga perkembangan agama Hindu tidak akan berarti apa-apa tanpa kaum perempuan. Seperti kita ketahui bahwa untuk menjalani kehidupan agama Hindu di Bali yang nggak pernah sepi dari upacara, setiap hari kita butuh bermacam banten ini - itu, banyak sekali. hingga tak ada hari tanpa banten (orang bilang di Bali nggak ada masalah, yang nggak bisa diselesaikan dengan banten), dan semuanya adalah tugas kaum perempuan untuk menyiapkannya. Jadi bisa dijamin, kalo nggak mungkin ada upacara bisa beres tanpa campur tangan kaum perempuan. </p>
	<p>Sedemikian besarnya peran kaum perempuan, membuat perempuan bagaikan pengendali dalam suatu upacara, tapi sayangnya nggak banyak dari mereka yang memiliki pemahaman yang baik tentang agama. Kebanyakan perempuan di Bali pendidikannya pas-pasan dan tertekan secara patriarchal dari kaum laki-laki. Banyak yang mengatakan bahwa perempuan nggak perlu tahu masalah agama secara mendalam, cukup mengurus rumah tangga, masak, ngurus anak, dll, urusan agama biar jadi urusannya laki-laki, (kalo ketemu orang yang punya pendapat kayak gini, Wahai…perempuan kepalkan tanganmu dan lawan !!!). Sehingga kebanyakan kaum perempuan di Bali menjalankan agama hanya sekedar menjalankan tradisi dari pada menjalankan dengan memahami yang benar. </p>
	<p>Pelaksanaan agama yang kurang seimbang, lebih cenderung ritual dengan banyaknya upacara dari pada filsafat atau etikanya, membuat peran kaum perempuan Hindu semakin besar di dalam spectrum pembangunan agama, sehingga sudah saatnya sekarang kita lebih memperhatikan pembangunan perempuan Hindu dalam pendidikan dan kepribadiannya, sehingga pemahaman agama yang baik dalam diri kaum perempuan, pasti akan tertular kepada anak-anaknya, keluarganya, dan masyarakat di lingkungannya. Pemahaman agama yang baik dan meningkatnya kehidupan beragama pada setiap orang akan menciptakan kerukunan antar sesama.</p>
	<p>Tapi benarkah perempuan selalu tertindas??? Apa itu bukan merupakan secuil kasus yang digeneralisasikan??? Coba kita tengok disalahsatu desa di Karangasem (tanah kelahiran saya tercinta) Di sana dikenal dengan adanya hari “Nyepi Luh”, yang mana pada setiap hari itu tiba, setiap perempuan di desa tersebut total dibebastugaskan dari rutinitas keseharian mereka. Mulai dari memasak, mencuci, memberi makan ternak, sampai mengurus anak semuanya dilakukan oleh kaum lelaki di desa tersebut.</p>
	<p>Benarkah semua ketertindasan terhadap perempuan selalu dilakukan oleh lelaki??? Tidakkah perempuan juga kompeten untuk melakukan penindasan terhadap kaumnya sendiri??? Bagaimana dengan “mami-mami” di lokalisasi prostitusi, nyata mereka adalah perempuan yang memperdagangkan sensualitas perempuan. Bagaimana dengan nyonya-nyonya majikan yang selalu memarahi dan berkata-kata kasar kepada pembantunya, apabila si pembantu melakukan kesalahan. Bagaimana dengan nyonya-nyonya yang mengejar karier sehingga tidak mau direpotkan oleh urusan untuk mengurusi rumah tangga dan mengurusi mertuanya yang sudah renta sehingga harus dikirim ke panti jompo, dan anak-anak mereka kekurangan kasih sayang. Sebab kasih sayang paling utama yang didambakan oleh seorang anak adalah kasih sayang seorang ibu.</p>
	<p>Bahwa sudah saatnya sebuah gerakan penyadaran untuk memperjuangkan hak-hak mereka sebagai manusia yang terlahir merdeka. Gerakan ini bukan gerakan revolusioner seperti yang banyak berkembang saat ini. Yang memper-juangkan kesetaraan dan sebagainya, namun banyak didalam aksinya menyalahkan lelaki sebagai faktor utama penyebab utama kekerasan terhadap perempuan. Jadi jangan heran semakin keras anda menyalahkan dan penghinaan terhadap lelaki dalam perjuangan kesetaraan maka semakin keras pula bentuk perlawanan dengan pelecehan yang dilontarkan, seperti lagu Balade of Lupe. Sebab belum tentu semua lelaki melakukan penindasan dan pelecehan terhadap perempuan. Jadi kaum perempuan juga harus mengacuhkan/memperhatikan mereka. </p>
	<p>Gerakan yang saya maksud adalah gerakan evolusioner “bawah tanah”. Unit terkecil dari sebuah negara adalah keluarga, jadi gerakan ini pertama kali harus diawali dari keluarga. Apalah artinya, jika kita sukses menanamkan semangat kesetaraan di masyarakat tapi di keluarga tidak, contoh seperti yang yang terjadi pada keluarga Mohandes Karamchand Gandhi.</p>
	<p>Jadi kaum perempuan mulai mendidik anak-anak mereka dan menanamkan bahwa pelecehan dan segala bentuk penindasan baik terhadap perempuan maupun lelaki adalah sebuah bentuk kekerasan yang tidak beradab dan bertentangan dengan kodrat hakiki dari makhluk hidup (seperti nilai-nilai yang ditanamkan kepada saya sejak kecil oleh ibu saya). Selain itu kaum perempuan juga harus menanamkan nilai-nilai ajaran kebenaran yang terdapat dalam setiap agama.</p>
	<p>Ini berarti kaum perempuan harus mulai menjaga wibawa dan sikap dalam berbuat maupun berkata-kata. Apa arti dari nilai-nilai yang kita tanamkan, jika kita sendiri dalam pergaulan bermasyarakat bersikap atau berkata-kata yang dianggap bertentangan dengan kaidah-kaidah yang berlaku di masyarakat. Pikirkan efek-efek negatif yang akan diterima oleh anak-anak kita.<br>
Prinsipnya adalah perjuangan pembelaan terhadap ketertindasan perempuan janganlah diharap serta-merta memperoleh hasil nyata sekarang, tapi kita nikmati hasilnya nanti.
</p>
<p> <small> <a href="http://jerink.blog.co.uk/2007/07/07/perempuan_ironi_sebuah_peradaban~2592816/#comments">Comments</a> </small> </p>]]></content:encoded></default:item></rdf:RDF>
